#MeToo

We live in unfair world. When more powerful people oppressed the weakest group. When bad people run the bad society with bad system. Its systemic and happened far far before when I was born.

#MeToo hashtag was flooding my twitter timeline few weeks ago. The point is to show that many many many people that having experience on sexual assault and sexual harassment so you don’t feel alone. But, so many people experienced that make me sick and sad because how cruel the world can be. Its kinda affecting me actually. Because I don’t see myself as an outsider who feel sad because of the story. But more as one of them. Who feel worthless, tiny, small, and not worth because of the event.

And it is not about women, but many people can be the victim. Old, young, men, women, trans, etc. Its make me sick because of the world can be cruel. And what make it more sick is because people tend to blame the victim. Thats what makes people silent, burry their sadness and grieve over their pain alone.

As writing this, my hands still feel cold, and the anger is still in my heart. Holding grudge won’t let you go anywhere. This courage to write in this sphere, at least helps me to admitting that I won’t be affected by this pain anymore. Because what doesn’t kill you, will make you stronger.

Advertisements

Master of None – Too Good to be Real

master-of-none-netflix-2

Semenjak nonton stand up comedy Aziz Anshari di Netflix di suatu malam yang dingin dan hidung mampet, akhirnya memutuskan untuk menonton Master of None. To be honest, episode-episode awal di season 1 jalan cerita-nya cukup aneh. Aneh karena terlalu real dan apa ada nya. Walaupun beberapa actor di awal berakting dengan awkward (and yes, yang jadi orang tua-nya Dev adalah real parents of Aziz himself), tapi menurut gue itu nilai lebihnya. Being real. Akhirnya hal itu yang membuat gue terus melanjutkan menonton episode selanjutnya.

Di season 1, ada satu jalan cerita yang menurut gue cukup menyentil perempuan galau berumur mid-20 yang sedang hidup sendiri di down under: masalah jodoh. Di episode-episode akhir season 1 diceritakan si Dev udah punya pacar namanya Rachel. Ketika mereka berdua datang ke pernikahan salah seorang teman, saat itu lah Dev berpikir apakah hubungan pacaran mereka (yang tergolong serius karena sudah tinggal bersama) akan bisa melanjutkan ke jenjang pernikahan? Its thousand dollar question for everybody, I guess. At this age, ketika lo sedang menjalin hubungan dengan seseorang, that seseorang is most likely end up to be the one you’ll get married. Yet, if you never have a picture of you and yourself get married with that seseorang, it is also hard to end up the relationship since you know you love that seseorang. You already invest your time, effort, love and many things to be together.

This episode remind me with one of many reasons why I finally broke up with my last boyfriend (hi H, just in case you reading this). One time, we just went to the mall and there is Payung Teduh played in one of the corner. Entah acara apa ya. Dulu gue selalu berpikir, romantis rasanya nonton payung teduh kalau sama pacar. Nah tapi entah kenapa saat itu rasanya malah… awkward. As in, there’s something wrong that I felt. Wrong feeling, wrong situation, wrong person? At that time, no matter how hard I deny the feeling, I know this guy is not someone that I want to spend my life with. But just like Dev, it is hard to have a break-up. Even, ketika lo udah putus, kenapa banyak orang yang akhirnya balikan lagi karena (menurut teori dan asumsi gue) you tend to stick with ‘familiar’ things rather than to go out and have adventures to find something new.

And when you know, you know that it won’t work anymore. Kalau kata Shawn Mendes,

Cause we can’t fix what’s broken
And I know it’s gonna hurt
But darling I’ll go first
Cause I won’t keep on saying those three empty words

Speaking of relationship. Gue belajar banyak dari relationship terakhir gue, bahwa penting untuk mengejar kebahagiaan diri sendiri. Terkesan egois, maybe. But, you just can’t lie if your feeling is not there anymore. I’d rather go and find my own happiness rather than stuck in unhappy relationship. Like literally go, pergi ke Australia misalkan 😀 Life is too short to stuck in a place that make you don’t grow. 🙂

Well, balik lagi ke Master of None. This is one of my favourite series. And season 2 is just getting much much better! Salah satu episode-nya bahkan wins Emmy for Outstanding Writing for a Comedy Series! Can’t wait for season 3. ❤

Privilege

privilege
ˈprɪvɪlɪdʒ
a special right, advantage, or immunity granted or available only to a particular person or group.

Setelah seminggu ribut-ribut soal ‘pribumi’ di belahan bumi Jakarta, otak gue yang kusut sama tugas jadi makin kusut liat apa yang sedang terjadi di Jakarta. Ketika di Australia lagi ribut-ribut soal issue energi dan marriage equality,  di Indonesia ngeributin hal-hal seperti ‘bahaya laten komunis‘, ‘pribumi‘, etc. Apalagi kalau udah diskusi sama temen WN Australia dan membandingkan politik yang terjadi di antara Indonesia dan Australia, makin runyam dan mengutuk kenapa perdebatan politik dan yang menjadi perhatian publik di Indonesia enggak substantif. Di situ lah gue sadar kalau membandingkan antara kedua negara tersebut tidak adil karena memiliki privilege yang berbeda.

Sebagai minority yang tinggal di Australia untuk kuliah, ada banyak hal yang membuat gue sadar kalau ada hal-hal yang tidak bisa taken for granted. Karena ketika gue kembali ke Indonesia, gue masuk ke kelompok-kelompok dengan ‘advantage’ dan ‘privilege’ nya. Di Indonesia sendiri, gue memiliki ‘privilege’ karena keturunan Jawa, lahir besar di ibu kota, beragama Islam, mengenyam pendidikan hingga S1, dan bisa berbahasa asing. Menjadi bagian dari kelompok mayoritas di suatu tempat itu sudah menjadi sebuah privilege sendiri. Ada banyak kemudahan-kemudahan yang gue dapatkan karena privilege tersebut, seperti koneksi dengan orang-orang yang tepat, informasi terbatas pada kelompok tertentu, dan banyak hal lainnya. Hingga akhirnya saya bisa mendapatkan kesempatan untuk kuliah S2 di Australia, menurut saya salah satu faktor yang mendukung karena saya memiliki privilege tersebut. Memang, kita tidak boleh melupakan hal-hal lain seperti dedikasi dan komitmen yang juga membantu faktor penting. Tapi saya memulai dari garis start yang berbeda. Saya harus mensyukuri karena orang tua saya memberikan privilege dan kesempatan untuk mengenyam pendidikan di salah satu sekolah terbaik di Jakarta dan mengijinkan saya mengejar mimpi saya (yes, bagi perempuan di Indonesia mendapatkan ‘ijin’ untuk mengejar mimpi adalah sebuah privilege. Do you realise that many woman can’t pursue their dream because ada yang disuruh menikah cepat dan berkeluarga? Ijin mengejar mimpi dari orang tua adalah privilege bagi saya).

Ketika sampai di Australia, saya pun mendapatkan privilege tersendiri. Mendapatkan kesempatan kuliah di salah satu Universitas terbaik, hidup berkecukupan, akses pendidikan dan informasi yang tidak terbatas, lingkungan akademis untuk networking di masa depan dan banyak hal lainnya. Saya sadar masih banyak orang yang tidak memiliki kesempatan yang sama disini. Contoh ekstrem-nya adalah homeless people. Contoh tidak ekstrem adalah teman-teman sekelas saya yang kuliah dengan biaya sendiri sehingga harus juggling antara kuliah dan kerja.

However, mereka (terutama yang WN Australia) juga memiliki privilege tersendiri yang sejujurnya bikin saya iri. Kebebasan berpendapat, appresiasi dan respect atas pilihan hidup yang dipilih, udara yang bersih, ketertiban masyarakat umum, etc. Apalagi kalau mereka bagian dari dinasti keluarga akademis/politik, when you get all access of knowledge and not to mention lively discussion/argument with parents over social/politic issue. Sedikit banyak saya pun merasakan privilege tersebut karena mengenal orang yang memiliki privilege tersebut (and I do love the discussion over many many things between us).

Dan memiliki privilege lantas tidak membuat saya menjadi lebih baik dibandingkan orang lain. Justru dengan memiliki privilege lebih ini membuat saya menjadi lebih bertanggung jawab untuk membantu mereka yang tidak memiliki privilege tersebut. Different privileges exist because everyone has different opportunity. Having more opportunity than other people should not be taken for granted. PR untuk Indonesia masih banyak untuk bisa mencapai level ‘maturity’ seperti Australia atau negara maju lainnya. But, that should be our (people with privilege) job to achieve the ‘maturity’ level that we hope.