Belajar dari Kegagalan (Part 2) – Seleksi LPDP Batch 1 Tahun 2016

As I promise to myself, I will write my LPDP selection process eventhough it didn’t end well.

Melanjutkan post sebelumnya mengenai seleksi administrasi, mari saya jabarkan mengenai proses seleksi kedua yang sangat menentukan: Wawancara, Leaderless Group Discussion dan On The Spot Writing.

Sebelum memulai ada baiknya saya memberitahukan dua hal. Pertama, di awal tahun 2016 terdapat sebuah kebijakan baru dimana quota penerimaan yang ingin melanjutkan studi ke Luar Negeri dibatasi (bisa dilihat di artikel ini). Di artikel tersebut di tulisnya quota yang ingin melanjutkan studi ke Luar Negeri sebanyak 45%, namun informasi yang saya dapat adalah 40% malahan teman awardee mengatakan quota adalah 30%.

Informasi kedua adalah mengenai sistem passing grade. Info ini saya dapatkan dari kawan-kawan yang pernah meminta hasil seleksi LPDP mereka melalui ppid, sebuah website untuk permohonan informasi publik. Jadi berdasarkan prioritas pembangunan nasional, beasiswa LPDP mengkategorikan bidang ilmu kepada prioritas dengan passing grade berbeda (karena saya sedang dalam proses memohon hasil penilaian, mungkin saya tulis dibawah bisa berubah, apabila berubah akan saya ganti nantinya), yaitu:

  1. Prioritas pertama terdiri dari bidang keilmuan teknik, sains, pertanian, kelautan dan perikanan, dan kedokteran/kesehatan dengan passing grade 700;
  2. Prioritas kedua terdiri dari bidang ilmu keilmuan, pendidikan, akuntansi/keuangan dan agama dengan passing grade 750;
  3. Prioritas ketiga terdiri dari bidang ilmu keilmuan ekonomi, sosial, budaya/bahasa dan bidang lainnya dengan passing grade 800.

Penentuan kelulusan didasarkan oleh passing grade dan catatan rekomendasi dari interviewer independen dan psikolog.

Dan tahun ini seluruh proses seleksi tahap kedua menggunakan bahasa inggris bagi yang tujuan luar negeri.

Bidang keilmuan saya masuk ke prioritas ketiga (Ilmu Sosial) dimana untuk lulus saya harus mencapai lebih dari 800 point dan masih harus memperbutkan tempat dimana quota keseluruhan sekitar 40%? Challenging, huh? Hihi. Bagaimana sistem pembagian penilaian? Untuk itu sejujurnya masih simpang siur. Tapi form aplikasi pasti sudah menjadi bench mark awal nilai terutama untuk IPK, akreditasi Universitas asal, nilai IELTS, sudah/belum mendapatkan LOA, prestasi, etc. Saat wawancara adalah momen konfirmasi ulang dan pendalaman. Yang bisa kami perkirakan untuk bobot adalah: 70% wawancara, 20% LGD dan 10% OTS Writing.

Hitung-hitungan di atas sejujurnya sudah bikin cukup gentar untuk maju. Karena saya harus mendapat highest score di keseluruhan proses seleksi. Tapi emang dasarnya suka dengan tantangan, hayoklah maju terus pantang mundur!

Bagaimana saya mempersiapkan diri? Pertama, bikin support group (lagi). Kedua, practice makes perfect.

Karena satu dan lain hal saya menemukan group line sesama pejuang yang akan seleksi tahap kedua. Ada sekitar hampir 200 orang tergabung. Dari 200 orang tersebut, 16 orang mengadakan kopdar dan saya akhirnya mengenal secara personal beberapa di dalamnya (Hai Susan, Aci, Iman, Aghni, dkk). Wajar sekali dalam group besar terdapat group kecil, sehingga sudah hukum alam akhirnya saya memiliki group kecil untuk latihan dan diskusi yang lebih intensif (Hai Ratna, Amores, Dona, Anton, dan Yoga). Β Latihan apakah yang dilakukan? Pertama drilling wawancara dan kedua LGD session. Menurut saya penting terutama membiasakan menggunakan bahasa inggris dalam komunikasi dan membantu dalam mengatasi nervous haha.

WAWANCARA

Karena bobotnya paling besar, makanya menjadi momok yang sangat horror. Dari hasil research, tanya sana-sini, akhirnya saya membuat list possible question. List tersebut saya bagikan ke teman-teman group besar dan pastinya sudah melanglang buana hihi. Sesuai judulnya ‘possible’ pertanyaan tersebut bersifat kemungkinan dan tidak pasti. Kenapa? The question will be very very personal to you. Especially from your essay. Dan tentu aja akan ada muncul pertanyaan dari jawaban yang telah kamu sampaikan. Di sesi latihan bersama kawan-kawan saya banyak di bantai terutama di bagian ‘Kenapa harus kuliah ke Luar Negeri? Memang gak ada jurusan di Universitas dalam negeri?’ Hahaha. I still remember that I almost cry to answer that because I must say that my friends were really horror at that time hihi.

Di sesi sebenarnya, pertanyaan tersebut tidak muncul. Sesi sebenarnya pertanyaannya sungguh template question (in my opinion). Pewawancara terdiri dari 3 orang, 1 dosen ahli, 1 dari LPDP dan 1 psikolog. 70% sesi wawancara menggunakan bahasa inggris dan 30% bahasa indonesia (sesi dengan psikolog). Wawancara berlangsung selama 40 menit. Pertanyaan yang diajukan antara lain: bagaimana saya mendapatkan LOA, ceritakan pekerjaan saat ini, mata kuliah apa yang menarik di studi tujuan, ceritakan mengenai skripsi sebelumnya, cerita kelebihan diri, cerita tentang orang tua, etc.

Selesai sesi wawancara sejujurnya saya merasa sangat lega karena bisa menjawab pertanyaan dengan baik. Semua berjalan lancar sesuai doa-doa yang saya panjatkan (apabila dibandingkan dengan wawancara sebelumnya, beuh jauh sekaliiii). Namun kelegaan saya berubah dalam sekian detik karena when everything went too smooth, it doesnt always mean good. Kalau seleksi ini gagal, jujur saya akan sulit untuk mencari tahu kenapa. Kenapaaa?? Hahahaha *nangis di pojokan* πŸ˜€

Mari kita tunggu jawaban penilaian dari LPDP-nya saja.

LEADERLESS GROUP DISCUSSION

Walaupun bobot penilaian tidak sebesar wawancara tetapi LGD menjadi sangat krusial. Terutama untuk menilai apakah kita mampu berdiskusi, berkompromi, menekan ego dan bekerja sama sebagai satu kelompok dalam mencapai kesimpulan serta solusi.

Satu kelompok LGD terdiri dari sekitar 10 orang. Memiliki waktu kurang lebih 45 menit (ada kelompok yang dapat 45 menit, 40 menit bahkan 30 menit, dunno why bisa beda-beda begitu) untuk membaca satu topik yang dihadirkan dalam bentuk artikel, berdiskusi dalam menyampaikan pendapat dan solusi, dan mencari solusi bersama/menjawab pertanyaan yang diberikan.

LGD is about cooperation dan mengatur waktu dengan baik. Penilaian terbagi dua, penilaian sebagai kelompok dan penilaian sebagai individu (berdasarkan pengamatan). Selain itu seberapa paham kita terhadap isu yang menjadi topik. Isu-nya bermacam-macam dan bisa sangat luas. Saran saya untuk menghadapi isu adalah buka wawasan dengan banyak membaca koran.

Topik yang saya dapatkan adalah mengenai Bela Negara. Alhamdulilah, (menurut kami) LGD berjalan lancar. Diskusi kami terdiri dari 2 round diskusi. Pertama secara clockwise, kedua secara acak. Masing-masing mendapatkan kesempatan yang sama untuk berbicara menyampaikan opini dan solusinya. Di akhir kami masih memiliki waktu 5 menit untuk menyampaikan simpulan dari hasil diskusi kami (penting ada yang menjadi time keeeper agar diskusi berjalan tepat waktu). Penting untuk saling mengenal dengan anggota kelompokmu sebelum sesi ini dimulai. Sehingga kamu bisa menebak arah diskusi ke depannya akan seperti apa. Tidak ada salah atau benar, yang penting bisa saling menghargai dan melengkapi. Dan tentu saja inisiatif yang tidak dominan (that’s why we call it leaderless) juga sangat penting. Setidaknya itu yang saya sampaikan ke teman-teman sekelompok LGD πŸ™‚

20160219_094747
Happy face because we made it! πŸ’™

ON THE SPOT WRITING ESSAY

Kalau tau sesi writing IELTS task 2, kurang lebih proses-nya sama. Kita akan diberi satu topik dan bisa menulis essay apakah (agree/disagree, cover both sides, opinion, etc). Waktu menulis 30 menit dan diberikan satu kertas yang bisa dimanfaatkan untuk menulis.

Topik yang diberikan ada 2, kita bisa memilih salah satu yang paling sesuai. Saat itu saya memilih mengenai ‘maximum penalties for terrorist and corruption suspect’ dengan posisi saya menyetujui kebijakan ‘maximum penalties’ tersebut.

Tidak ada saran yang lebih baik selain sering mengikuti isu terkini di koran dan latihan menulis. Topiknya lumayan beragam, ada kawan yang mendapat mengenai solar eclipse, paid plastic bag, hingga tax amnesty.

Ketika saya dinyatakan tidak lulus, sedih itu sudah pasti. Namun tangis yang muncul seringkali karena rasa haru yang tidak bisa terbendung karena perhatian kawan-kawan perjuangan yang menyemangati saya. Belum lagi orang tua dan keluarga. Serta orang-orang lain yang percaya dengan kemampuan saya. Mereka yang setiap hari menanyakan hasil kepada saya dan ikut mendoakan saya. I couldn’t hold my cry when received their messages. Terutama bagi kawan-kawan perjuangan yang lulus, terlebih bagi yang sama-sama tidak lulus. Terimakasih atas rasa percaya dan tulus persahabatan yang kalian berikan. :’)

Saya tidak akan menyalahkan siapapun terhadap kegagalan yang saya alami. Bahkan diri saya sendiri. Saya tahu saya sudah berusaha dengan upaya terbaik saya (only God knows what I’ve been through). Dan saya tahu LPDP layaknya institusi lainnya memiliki sistem yang rigid dan aturan yang harus dipenuhi. It’s simply because I just not fit in their system. That the bitter truth I have to swallowed. That’s the bitter truth that keep me move on. Saya belajar untuk terus berprasangka baik terhadap Allah SWT. Saya belajar untuk memperbaiki diri, untuk tidak boleh sombong, untuk terus belajar, tidak boleh lengah dan menjadi kuat. What doesn’t kill you will make you stronger. Satu pintu rejeki tertutup, ada pintu rejeki yang lain. I do believe in that.

Pilihannya ada dua: merutuki nasib atau bergerak maju.

Saya pilih bergerak maju.

Bring it on!

Advertisements

23 thoughts on “Belajar dari Kegagalan (Part 2) – Seleksi LPDP Batch 1 Tahun 2016

  1. Tami yang baik. Saya menjadi saksi bagaimana perjuanganmu selama proses LPDP ini. Saya melihat sendiri nilai-nilai mu yang luar biasa nasioalis dan rendah hati. Semangat berbagi yang penuh keperhatiaan juga tampak jelas dalam ketulusan yang besar.

    Ketika saya tahu Tami tidak lulus, saya ikut patah hati. Saya terpukul berat. Saya bingung.

    Hanya saja kita tidak boleh patah semangat dan berhenti berharap. Taburan yang baik, tuaiannya juga baik pula. Saya yakin tuaiannya bukan di LPDP tapi tempat lain.

    Tuhan memeluk mu erat dan penghiburanNya membalut luka-luka.

    Salam kasih,

    Teman berjuangmu, Amores

    • Amores selalu sukses bikin aku nangis terharu :’) makasih amores.. Tanpa kalian aku ga akan bisa sekuat sekarang. Yuk kita berjuang bersama. Aku percaya kita berlima bisa menggapai mimpi kita. No men left behind πŸ’ͺ

  2. Hai Mbak Tami, ini Rosa πŸ™‚

    Sungguh berbesar hati sekali mb tami mau berbagi cerita ‘belum sukses’ nya. Yang selama ini biasanya cerita sukses walopun jalannya memang berat.

    Anyway, setuju banget “Pilihannya ada dua: merutuki nasib atau bergerak maju.”

    Mari kita lanjutkan perjuangan kita. Semoga kita diberi nikmat sehat dan tenaga yang prima, juga diberi kelancaran ya.

    Let’s go for STUNED!

  3. Tamiiiiiii!!!#hug
    Bersyukur banget bisa bertemu dengan Tami dan pejuang2 tangguh lainnya yang tidak patah semangat dan justru saling memotivasi satu sama lain. I am truly inspired and because of y’all I can tell myself: “get up! don’t give up now! Let’s try again!”
    Honestly, I am scared, but yes, I will try again.

    I remember of a saying: Wanting to give up is a test of how much you want something. Not giving up is proving how much you do.

    Remember why we started? We want to contribute for the better Indonesia. For that, Indonesia needs strong fighters, so we should not give up. Let the struggle become the part of the story, but for sure it is not how the story is going to end.

    Semangat!!!! πŸ˜‰

    • Susaaan!!! #bighug thanks for reading this and leave a kind message :’) Yes I do still remember our conversation before the interview session. Don’t give up, Susan. I do believe we can reach our dream and give contribution to develop better Indonesia. SEMANGAT!! dan goodluck buat LPDP lagiiii :*

  4. Hi Tami,

    first of all, tetap semangat. Youve done your best with LPDP. Now, let’s seek another door and try to knock it.

    Saya juga salah satu peserta yang gagal seleksi kemarin dan telah mendapatkan feedback penilaian dari PPID. Dari nilai yang telah dipublish, sepertinya porsi Interview sebesar 60%, LGD 20% dan Essay 20%. Saya pun sama dengan kamu, memilih Ekonomi yang notabene Prioritas ketiga dengan Passing Grade yang paling tinggi (>800 points).

    Dari hasil PPID tersebut, jika saya telaah, maka saya jatuh di Essay dimana nilai essay saya cuma 50% dari 20% tersebut. Padahal Interview dan LGD sudah cukup baik. Nyesek sih, karena saya hanya butuh 12 points lagi untuk bisa pass the grade hehehe … πŸ˜₯

    Intinya, semangat, jangan putus asa, dan banyak jalan menuju Roma jika memang tujuan dan niat kita baik.

    Terima kasih telah berbagi tulisan ini.

    Salam,
    R

    • Hi Febrian,

      Thank you for your nice comment.

      So sorry to hear that. Semoga kamu masih punya kesempatan second attempt dan mencoba LPDP lagi. Kalaupun tidak masih ada “pintu-pintu” lain untuk dicoba untuk melanjutkan sekolah πŸ™‚
      Btw untuk passing grade bidang prioritas 3 itu katanya ada yang dikasih tau “tetep” 800, ada 825 bahkaaaaan 850 :))) We never know for sure ya bok yang mana. Karena yang melewati 825 ditidakloloskan karena dalam email yang dia terima passing grade bidang 3 adalah 850, sementara kawan-kawan lain 825.. Ah well.. πŸ™‚

      Semoga niat baik kita semua yang sedang usaha untuk melanjutkan sekolah dicatat oleh Malaikat dan dikabulkan oleh Allah SWT. But, after all, He always knows what best for us.

      Terimakasih sudah mampir di tulisan ini. πŸ˜€

  5. Assalamualaikum Mbak Tammi.
    Saya Zahra, terima kasih banyak ya telah bersedia sharing pengalamannya.
    Saya mohon izin untuk mengunduh sebagian dokumen Mbak Tammi sebagai bahan referensi.
    Semoga segala urusan Mbak ke depan selalu dilancarkan. Amin ya Rabb.

    • Hi Zahra, silahkan di download ya πŸ™‚ Semoga bermanfaat dan membantu, walaupun pada akhirnya saat kamu interview lpdp nanti semua pertanyaan itu kembali lagi ke essay yang telah kamu tulis.
      Terimakasih doa-nya.. Amin YRA. Semoga Zahra juga dilancarkan proses mendapatkan beasiswanya ya. Amin YRA.
      Goodluck πŸ™‚

  6. Hello ka,
    I have read a lot of LPDP articles written by the awardee but in fact I am way more inspired when you, who might seem like “failed” on the LPDP actually went out to be more than a winner in my eyes. Thank you for all your sharing. Keep on running to achieve your dream!

  7. mbak tami, dari ke 3 tulisan mbak tentang LPDP saya dapat melihat bahwa anda seorang yang sangat cerdas, dan juga sangat terencana. dan selayaknya mendaptkan beasiswa tersebut karena mempunyai potensi besar untuk memimpin dimasa mendatang. dan Saya yakin mbak tami akan mendapatkan kesempatan yang lebih baik di tempat lain.

    benang merah yg bisa saya ambil dari pengalaman ini adalah. sepertinya persiapan mbak tami begitu matang sehingga saat wawancara jawaban mbak seperti sudah tersistem dengan baik, dan mungkin dilihat oleh reviewer dan psikolog tidak alami. mungkin itu yg membuat mereka tidak memberi rekomendasi. dan Jug bidang ilmu yang dipilih bukan tema prioritas.

    btw sy juga sedang bersiap untuk mendaftar lpdp, terima kasih banyak mbak tami sudah berbagi pengalaman dan bisa menjadi guidelines bagi saya jika dipanggil test subtantif.

    sukses terus mbak tami.

    • Hi Septa, thank you for your concern and kind words. Over well-prepared memang terkadang menjadi pedang bermata dua. But at least, I’m proud of myself because I did my best at that time. And the previous failures help me to be the better version of myself in the future. Sukses ya Septa untuk proses pendaftaran beasiswa nya. Did you know saat ini lpdp sedang di hold? Maybe you should consider other scholarship for you to prepare. πŸ™‚ have a nice day

  8. Pagi Mbak Tami, kebetulan saya sedang menunggu pengumuman LPDP Batch 4. Campur aduk rasanya membaca tulisan Mbak Tami, terharu sekaligus termotivasi. Tidak mudah menuliskan tentang cerita kegagalan, dan saya bahagia membaca tulisan yang jujur, rendah hati, penuh dengan optimisme seperti tulisan Mbak Tami. Seperti becermin di air yang jernih, tulisan ini sangat menginspirasi dan mengantarkan saya pada pemahaman yang indah. Terima kasih, Mbak.
    Meski hanya membaca tulisan, saya yakin Mbak Tami pribadi yang cerdas dan bijak. Doa teriring, semoga sama-sama diberikan lapang jalan meraih mimpi. Amin.

  9. Assalamualaikum, tulisan mbak Tamy so inspiring. Menurut saya mbak adalah pribadi yg sangat berkualitas, berpendirian tegas, dan LPDP telah salah tidak menerima mbak Tamy jadi salah satu awardee nya. Tetap semangat mbak, percaya Allah telah menyiapkan yang jauh lebih baik buat Mbak. Dan masiih banyaaaak pintu2 beasiswa lain yang belum diketuk:)

      • Hi mbak Tami, update news, mulai tahun 2017 setiap orang memiliki kesempatan untuk gagal dalam seleksi LPDP maximal sebanyak 3x (rangkuman info momev dg p kahar, di Thai Edge, Leeds, UK)
        Barangkali mbak Tami bersemangat dan berkeras kepala untuk dapat beasiswa:)
        Bukankah kerja keras tidak akan pernah menghianati hasil?
        So let do your best (again), let Allah do the rest:)

      • Hi Anita, wahhh.. So happy to hear that. Pasti akan ada banyak sekali kawan2 yang telah gagal 2x senang mendengar berita ini. Apakah ada berita resmi nya? Mungkin saya bisa saya kabarkan ke kawan2 yang lain. Terimakasih ya Anita untuk perhatian kamu. Saat ini Allah telah memberikan saya jalur yang lain untuk sekolah. Insya Allah 4 Januari nanti saya akan berangkat ke Australia untuk melanjutkan S2 saya melalui beasiswa Australia Awards. 😊😊 once again thank you for your update news, I do believe many people will be very happy and excited with this news. Have a nice day

  10. Hai Tami, salam kenal. Saya adalah orang yang sama sekali belum pernah mencoba mendaftar beasiswa. Selesai kuliah, saya fokus mencari kerja. Bekerja membuat saya nyaman dan nyaris tidak memikirkan kuliah lagi. Tapi belakangan saya “terusik” untuk melanjutkan sekolah. Dan membaca pengalaman kamu tentang kegagalan di LPDP, menjadi bekal untuk saya mempersiapkan diri. Terima kasih untuk sharingnya. Oya selamat untuk beasiswa Australian Award-nya. Kamu sudah buktikan, tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Once again, congratulation πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s