Adaptation /ˌæd.əpˈteɪ.ʃən/ 

[Noun] The process of changing to suit different conditions.

Memasuki bulan ketiga pindah ke kantor baru. Bohong kalau gue bilang adaptasi-nya lebih mudah. Yeah, life seems easier. The first two weeks was the most peaceful I ever had. But surely it has different challenges. Dan lagian ya baru dua bulan kan yah, I believe pasti punya obstacle sendiri dalam setiap tempat kerja.

Karena perubahan itu pasti, maka mau tidak mau gue pun turut beradaptasi dengan lingkungan baru ini. Walaupun sama-sama instansi pemerintah, tetep aja tiap tempat kerja punya karakteristik yang berbeda (walaupun serupa). Hal yang paling mencolok adalah jumlah tenaga kerja. Dulu di eselon II tempat gue bekerja jumlah pegawai-nya bisa mencapai 100 orang (saking banyaknya). Di tempat gue sekarang..*itung pakai jari* 25 orang pun ga nyampe!

Kalau dulu gue terbiasa dengan suasana ruang kantor yang hingar bingar. Teman yang duduk di kanan dan kiri menyalakan radio. TV selalu memutar acara (entah berita atau film). Setiap jam bisa ada tukang jualan (you name it, mulai dari jajanan pasar sampai sprei!) yang lewatin dan nawarin barang dagangannya. Belum lagi kalau mulai heboh gossip atau ngobrol. Seramai itu. Dan kemudian suasana kantor gue yang sekarang semua orang sibuk dengan layar komputer masing-masing. Tidak ada suara musik atau tv. Hanya keheningan dan sesekali nada pelan orang menanyakan kerjaan kemudian sibuk kembali. Krik krik krik…. Seminggu pertama gue shock dengan kesunyian dan ketenangan itu.

Adaptasi yang kedua adalah perubahan jam kerja. Ya, jam kerja pada umumnya memang jam 8 sampai jam 5 sore. Tapi, hidup gue enggak umum. Dua tahun bekerja di kantor yang dulu membuat gue menjadi mahluk nocturnal. Pulang jam 7 malam dianggap kesorean. Pulang jam 5 tenggo merupakan anugerah. But most of the time, I went home late at night. Bahkan sering pulang pagi. Bukan cuman anak agency atau akuntan aja yang bisa pulang pagi kok hihi. Siapa bilang working in government ga bisa bikin pulang pagi. Duty call, baby.

Dua minggu pertama bisa pulang on time dan tenggo rasa-nya seperti ada yang hilang. Hari-hari pertama sih berasa surga. Hari berikutnya seperti ada yang salah. Tanpa sadar gue mulai mencari kesibukan. Bukan berarti di kantor baru enggak sibuk. Tempat kerja baru gue bener-bener sangat efisien. I can finish my report or write less than 3 hours (sejauh ini sih yaa hihi).
Hingga pada suatu hari gue melakukan sesuatu yang gila. Senior gue di kantor yang dulu menyampaikan dia butuh bantuan untuk menyelesaikan sebuah project besar (yang gue tinggalkan kala itu karena pindah kantor hahahaha). Penyakit di kantor dulu adalah walaupun punya banyak pegawai tapi yang kompeten dikit (atau yang dipercaya kompeten). Jadi sampai gue yang pindah kantor dimintain tolong. Dan gue menyanggupi. Kenapa? Gue rindu sibuk dan pulang malam. Yes. Call me crazy. So, for almost 10 days (include weekend), I work at two places. Jam 8 – 5 di kantor baru. Jam 5 sore sampaiiiii 1 pagi or pernah sih 3 pagi hahaha di kantor lama. I think that’s a proper farewell to my former office. I’m glad I still have a chance to join the mission and finish it together with them.

Adaptasi selanjutnya adalah gue terpacu untuk mengikuti perkembangan isu substansi yang di handle kantor baru gue. Berbeda dengan kantor dulu yang isu-nya adalah bukan-topik-yang-gue-suka, isu di kantor baru adalah sesuatu yang gue suka dari dulu! Emang bener ya, kalau lo suka sesuatu pasti ngelakuinnya dengan semangat. Itu yang gue rasa sekarang. Now, I am hungry for every information. Kalau kata Gilang ini seperti kuliah tapi digaji (haha).

Di kantor baru juga gue cenderung lebih hemat. Itu semua karena pengaruh lingkungan sebenarnya. Salah satu sifat jelek gue adalah gue orangnya sangat boros. Dulu mah enggak pernah gue ngitung berapa duit yang masuk dan berapa duit yang gue hambur-hamburkan. Walaupun enggak sampai terjerat hutang segala tapi jeleknya adalah gue enggak punya saving. Itu adalah penyesalan terdalam gue.

Ya tapi percuma menyesal aja kalau enggak berubah. Alhamdulilah, lingkungan baru gue sangat mendukung untuk menjalankan misi #TamiHidupHemat2015. Mulai dari harga-harga makanan yang lebih murah. Gue pun sekarang lebih suka bawa lunchbox dari rumah. Minimal nasi lah, jadi tinggal beli lauk aja. Trigger perubahan ini adalah karena diskusi di suatu siang bersama kawan-kawan terkait pengaturan keuangan. Tentang orang yang hidup-nya boros banget, gaji-nya lebih gede tapi masih harus pinjem uang ke orang lain di akhir bulan. Belum lagi ada kawan gue yang cerita dia lagi menabung buat biaya umroh. Duh, malu sekali rasa-nya. Gue yang udah lebih dulu kerja dibanding dia (si temen itu fresh graduate) enggak pernah pikir panjang soal uang. Tabungan kala itu lagi di titik rendah. Enggak mungkin gue terus-terusan mengandalkan safety net untuk melanjutkan hidup. Katanya mau hidup mandiri? Tapi gak punya tabungan? Hih.

Di titik itu lah gue sadar bahwa gue harus punya kemampuan smart finance management. Segede apapun penghasilan gue kalau gue enggak bisa ngatur-nya, ya bakal sama aja bohong. Hihi. Dan gue percaya hidup sederhana enggak akan bikin hidup susah 😀

11203119_370236809842700_9197267758870555737_n

Dan ya gambar dari Mice Cartoon di atas cukup menampar gue sih hihi. Terlebih lagi OB di kantor gue bahkan di kampung punya rumah 3! Men! Itu semakin memacu gue untuk dapat hidup hemat *anaknya suka gamau kalah*. Mungkin bukan sekedar hemat sih tapi harus smart. Smart spending and smart saving. Menurut gue jangan juga sampai nyiksa diri dengan enggak makan atau gimana. Gue tetep makan normal dengan bawa bekel dari rumah. Makanan dari rumah udah pasti kejaga kualitas dan nutrisi-nya. Bahkan gue bawa snack sendiri! Gue baru ngeh orang-orang di rumah suka banget belanja makanan tapi ga pernah dimakan (now I know where the bad habit comes). Gue juga masih tetep hang out sama temen gue. Mungkin enggak akan sesering dulu. Hohohoho.. Yeah anyway, it feels good. 😀 But the most important thing is commitment. Harus commit dan persistent untuk menjaga pola hidup seperti ini walaupun udah berkeluarga dan berpenghasilan lebih besar lagi hihi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s