Another Gloomy Day :(

Lagi-lagi terdapat berita duka cita dari dunia penerbangan. Pesawat AirAsia QZ8501 lost contact pada hari Minggu tanggal 28 Desember 2014. Pesawat yang berangkat dari Surabaya dan seharusnya tiba di Singapura tiba-tiba hilang kontak di atas perairan Tanjung Pandan. Yang membuat tambah sedih adalah mendapati nama yang familiar di daftar korban. Yep, salah satu flight attendant-nya adalah kawan semasa kuliah dulu. 😦

Bisa dibilang dua tahun terakhir saya merupakan pengguna tetap pesawat sebagai opsi public transportation ke luar kota. Ya tentu aja business related. Airport udah jadi markas ketiga setelah kantor kalau lagi hectic-hecticnya. Tuhan punya cara yang aneh mewujudkan keinginan gue sebenarnya. Dulu terinspirasi film Up in The Air untuk punya kerjaan dengan traffic travel yang tinggi, siapa sangka wishful thinking itu terwujud beberapa tahun kemudian. Ah well.. intinya saking sering-nya saya sampai hapal mati sama rutinitas di bandara – pesawat – bandara (tujuan). Walaupun seringnya saya sampai mepet sama waktu take off sehingga harus lari-lari di Bandara macam film AADC, atau pun pernah saking seringnya (hal yang terlalu sering membuat kita jadi gak waspada fyi) saya sampai lupa confirm web check in! Itu dodol banget. Dan akhirnya ketinggalan pesawat… huhuhu… Untung Tuhan masih baik sama saya karena dibantu dalam wujud orang-orang yang helpful banget saat itu sehingga saya bisa dapat seat di penerbangan selanjutnya dan kembali pulang.

Anyway, back to the topic, walaupun saya sering menggunakan pesawat tetap aja ketika cuaca buruk saya merasa was-was. Ketika pesawat take off, yang saya bisa lakukan adalah pasrah dan (sok) menikmati perjalanan. You will never know what happen to you up there, or everywhere. Ketika turbulence sekalipun, secanggih apapun pesawatnya, sejago apapun pilotnya, kalau lawannya alam sih ya wallauhalam. Salah satu penerbangan buruk yang saya ingat adalah ketika ke Bali. Entah mission keberapa, tapi nampaknya sudah memasuki musim hujan karena kami melewati hujan badai. Yang saya ingat satu pesawat diam semua kala itu. Dan karena cuman ada Aida di sebelah saya (hahaha) saya pegang tangan dia, dan saya tahu if something bad happened but at least saya sedang bersama Aida. Setiba saya di Bali, langsung pergi ke cafe deket hotel dan pesen pizza saking lapernya! (korelasi yang aneh).

Semenjak saat itu saya memilih untuk tidak takut dan hadapi. Ketika bepergian sendirian pun di cuaca buruk saya menikmati setiap detiknya. Yang jelas everything happen for a reason. Saya gak akan bohong bilang kalau itu enggak menakutkan, but you can choose to be brave or be afraid.

But, menggunakan pesawat agak adiktif sebenarnya. Saya sendiri selalu tergila-gila melihat pemandangan dari atas. Mulai dari berbagai macam bentuk awan yang lucu, samudra luas tak bertepi, alur sungai di Kalimantan, puncak Gunung dan lain sebagainya. Apalagi kalau penerbangan jarak jauh. Saya paling enggak suka pesawat yang transit, karena mengganggu waktu bengong saya hahaha. Iya, coba dimana lagi bisa bengong sebebasnya tanpa harus takut diganggu. Dengan pemandangannya yang spektakuler tentu aja.

above switzerland
Switzerland from above

Dari lubuk hati paling dalam saya berdoa untuk seluruh penumpang Air Asia QZ8501, seluruh keluarga serta kerabat mereka yang sedang berduka, dan tim yang dikerahkan untuk mencari pesawat tersebut. God is good. Semoga dikuatkan hati kami yang lemah ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s