Married ?

Sekitar dua minggu yang lalu saya mengunjungi blog ini. And somehow tulisan-tulisannya membuat saya berpikir mengenai satu topik: pernikahan. Seperti yang pernah saya tulis di postingan ini, topik mengenai pernikahan mungkin menjadi salah satu tanda tanya besar bagi mereka yang memasuki umur 20 tahun dan belum menikah. Well, tidak terlepas diri ini.

Pernikahan sendiri masih menjadi sebuah konsep yang terasa sangat jauh dan fana. Dari kesemua teman dan sahabat saya (lingkar pertama ya maksudnya) belum ada yang menikah atau berencana menikah dalam waktu dekat. Kami semua masih berpikir tentang “karier” atau “melanjutkan sekolah”. Aida sedang S2 di Birmingham. Bisa jadi setelah dia lulus akan menikah. Tapi tipe Aida dan saya serupa, lebih senang kerja dan bersosialisasi. Gilang sendiri masih punya banyak tanggung jawab yang harus dia penuhi dan mungkin masih sekitar 5 tahun lagi akan berpikir mengenai pernikahan. Setidaknya saat ini Gilang sudah mengalami kemajuan dengan belajar berkomitmen dengan hubungan yang dia jalani saat ini. Sementara kawan saya yang lain.. hmm lets see.. rata-rata single, kalaupun ada yang punya pacar juga masih berpikir mengenai karir. See, gimana coba mau mikirin pernikahan kalau sekeliling saya aja masih career-minded. Ah well…

Tapi konsep pernikahan tetap mengusik saya. I am not talking about the wedding, but the marriage life. When two people agreed to live and build a life together. Dulu ketika mengambil mata kuliah “Perempuan & Politik” sedikit banyak saya belajar mengenai bagaimana peran perempuan yang berada di ranah domestik dan sulit untuk berkembang di ranah publik. Yes, I am talking about kesetaraan gender. Kesimpulan besar selama satu semester belajar Perpol adalah membangun equality itu dimulai dari ranah terkecil, yaitu rumah a.k.a keluarga. Kesetaraan gender bagi saya ketika peran kedua belah pihak (yang berbeda lawan jenis) menjadi seimbang dan tidak dominan satu sama lain. Maka penting untuk perempuan (atau laki-laki) tetap berkarya dan berkembang. Simple-nya adalah penting bagi perempuan untuk punya penghasilan sendiri agar tidak ‘bergantung’ terhadap suaminya. Uang adalah hal yang paling sederhana untuk menjadi contoh bagaimana seseorang berkuasa atas pihak lainnya. Atau contoh kesetaraan gender lainnya adalah ketika pembagian tugas rumah tangga bukan lagi berdasarkan “ini tugas laki-laki” atau “ini tugas perempuan”, contoh memasak selalu identik dengan perempuan atau mengganti lampu identik dengan laki-laki. Kalau perempuan bisa mengganti lampu sendiri atau betulin pipa air enggak masalah kan? Begitu pula kalau laki-laki yang masak atau mencuci piring.

Well, itu sih pemikiran saya waktu umur 20 tahun. Namun makin kesini ternyata ada banyak sekali aspek yang harus dipikirkan dalam sebuah konsep pernikahan. Yang namanya build a life together itu harus tau kan mau bangun hidup yang kayak apa? Berarti harus tahu tujuan menikah itu apa. Kemudian ketika sudah tahu tujuannya apa, apakah semudah itu mencari seseorang dengan tujuan yang sama? Dan satu hal yang pasti adalah yang harus dipersiapkan adalah mental itu sendiri.

Membangun mental itu penting banget. Apalagi ketika saya berpikir mengenai kepantasan diri sendiri untuk menikah. Pertama, ego saya masih tinggi banget. Kedua, saya punya banyak kekurangan dan kelemahan. Dan kali ini saya telat ambil langkah dibandingkan tomtom. Setelah diingat-ingat ada juga satu kawan yang telah berpikir tentang pernikahan. Speaking about tomtom, setelah dia menemukan orang yang dia rasa adalah jawaban dari semua pertanyaan (hahaha), topik yang selalu dibahas enggak jauh-jauh dari pernikahan. Tadi pagi setelah lari dia mengutarakan keinginannya untuk kembali belajar mengaji, sekaligus nanya apakah ada guru ngaji yang bisa ngajarin dia ngaji dan agama lagi. “Untuk persiapan menjadi Imam yang baik nantinya”, kata dia.

Dan gara-gara obrolan dengan tomtom, setidaknya saya jadi punya beberapa jawaban untuk “konsep pernikahan” saya sendiri. Mungkin banyak orang berpikir tentang “saya ingin mencari pasangan seperti bla bla bla”, tapi bukankah lebih baik kalau “saya ingin menjadi bla bla agar menjadi pasangan yang baik”? Fokus memperbaiki diri sendiri itu lebih penting. Just like I mentioned before, saya sendiri masih punya banyak kekurangan dan kelemahan, masa ngelunjak minta pasangan yang baik? Haha. And if you do something good, the rest will follow, rite?

Setidaknya saya harus mulai belajar jadi istri, partner serta ibu yang baik bagi calon pasangan dan anak-anak kelak. Dan waktu nulis ini saya masih enggak percaya kalau saya sendiri yang nulis. Tami ngomongan jadi calon istri dan ibu? Hahaha I can hear my friends laughing. Maklum dulu mantan preman XD

Saat ini masih banyak hal yang dipikirkan dan pertanyaan yang belum terjawab sih. Tapi saya percaya Tuhan punya skenario terbaik untuk umat-Nya. Dan saya percaya, everything happens for a reason.

Good night good people

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s