The One and The Lovely City

IMG_2845

As I promise, post kali ini bercerita tentang business trip gue ke Jayapura sekitar awal November. Nope. I won’t write tentang kerjaan gue di post ini. Selain haram hukumnya *lebay* tapi mending ke bagian fun-nya aja. πŸ˜€

Seperti biasa kalau lagi business trip gue selalu curi waktu (tentu aja saat kerjaanya beres) untuk bisa keliling kota dan hunting foto. Apalagi ini pergi-nya ke Jayapura. Kapan lagi coba bisa pergi sejauh ini. Flight pulang pun udah diatur yang direct flight jam 12 siang dan beda dari rombongan yang milih pulang Subuh. So I have a limited time buat mengenal kota ini.

Seperti yang udah pernah gue ceritain sekilas di post ini, gue kenalan sama mas Firman a.k.a Fier dari postingan di blog dia tentang Jayapura. Lebih tepatnya ketika gue browsing dan menemukan alamat emailnya, langsung gue email Fier. Simple sih sebenarnya cuman buat nanya rute lari pagi yang oke dari hotel ke pantai terdekat sama spot-spot mana yang bagus untuk dikunjungin. Sebenarnya gue lupa gue pernah email ke dia, sampe si Fier bales email itu di waktu yang tepat ketika gue baru aja landing di Jayapura.

Singkat cerita, setelah dikasih rute lari yang oke ke Pantai Dok II, Firman pun menawarkan juga kalau hari Sabtu masih ada di Jayapura dia bisa mengantarkan jalan-jalan. Dasar anaknya nekad dan agak kelewat mure (haha) ya diterima lah tawarannya.

Terbiasa lari jam setengah 6 di Jakarta, ternyata kalau jam segitu di Jayapura matahari udah tinggi dan terik sekali. Salah waktu nih. Tapi ya akhirnya lanjut aja, bermodalkan arahan Firman, Google Maps dan feeling menuju Pantai Dok II. Sepanjang jalan ketemu anjing liar sih. Tapi kata Fier lebih bahaya orang mabok dibanding anjing liar haha. Sepanjang lari ada kepuasan tersendiri karena sebenarnya sebelum berangkat ke Jayapura dan melempar ide untuk lari pagi di Jayapura udah banyak yang menentang. Banyak yang khawatir dengan keamanan di kota ini. Well, wajar sih. Keterbatasan informasi bisa membuat spekulasi yang aneh-aneh. Ditambah lagi berita di media. Untungnya di email Fier menyebutkan kalau mau lari pagi aman-aman saja karena orang-orang Jayapura termasuk penggila lari. Puas banget rasanya! Hahahaha.

20141030_060401
capek abis lari ke Pantai Dok II

Jumat malam-nya sempat ketemu Fierman sebentar untuk arrange janjian Sabtu pagi. Dia sempat tanya sebenarnya gue mau ngeliat apa. Yang kepikiran pertama: Sunrise! Bagi gue matahari terbit di Papua merupakan matahari terbit yang spesial. Karena itu merupakan matahari yang terbit pertama di Indonesia. Hal ini terinspirasi oleh berita Presiden Soeharto yang merayakan tahun baru di Papua untuk menikmati matahari terbit pertama di Indonesia. Maka karena tujuan utamanya melihat matahari terbit jadi Fier dan kak Sarah (sepupunya) akan menjemput ke hotel sebelum jam 5 pagi karena sunrise jam 5.15. Sisanya kemana, saya pasrah aja deh hahahaha.

Sabtu pagi-nya saya sudah siap dari jam 4 pagi. Tepat jam 5 saya dijemput dan benar aja jam segini Jayapura udah agak terang tapi matahari belum terbit.

“Kita mau kemana?”

“Yang jelas bukan ke pantai”

Dan dibawalah si Tami ke sebuah dataran tinggi di Jayapura. Sebuah lapangan golf di wilayah militer. And there it is, si matahari terbit yang malu-malu menyemburatkan sinarnya ke kanvas langit. Matahari terbit pertama. Sedikit terharu sih karena salah satu wish akhirnya terwujud juga. Setelah puas foto-foto dan memandang matahari sampai silau, Fier menyadarkan saya kalau masih ada tempat lain yang harus dikunjungi.

IMG_2795
*cuman bisa menahan nafas kalau liat foto ini*

Sebenarnya sebelum ke satu tempat ini, Fier dan kak Sarah sempat ngajak ke satu bukit (lupa namanya), tapi tempat yang satu ini memang spesial. Jadi kota Jayapura punya Landmark tulisan “Jayapura City” di salah satu bukitnya. Dan kalau kita ke atas sana, kita bisa lihat kota Jayapura dari ketinggian. Karena masih pagi, tempatnya masih sepi dan kita bertiga menjadi pengunjung pertama.

“Nah, coba kamu tutup mata nya” he? tutup mata. Secara anaknya agak parnoan sama tempat tinggi sebenarnya, permintaan untuk menutup mata itu agak gimana gitu ya. Tapi yaudah nurut aja deh. Sambil jalan pelan-pelan dan dituntun sama Firman sampai juga ke pinggirnya dan saat membuka mata…

IMG_2809
woaaa

Bagus banget sih kota ini :”)
Intinya judul dari trip ini adalah pergi ke dataran tinggi sih nampaknya. Dan ketika kita melihat segala sesuatu dari “atas”, you can see the whole picture. Completely.
Sejujurnya gue sirik dengan Fier dan kak Sarah yang tinggal di kota ini. Banyak banget tempat buat kabur untuk jauh dari keramaian. Secara tinggal di Jakarta kan riweh dan bising ya. Jadi menurut gue punya tempat-tempat asik kayak gini jadi privilege yang lumayan bikin sirik. You can see everything from above. Take distance from “reality” for a while.

Nah. Tempat ketiga (sekaligus terakhir hiks) yang kami kunjungin merupakan yang teristimewa. Danau Sentani! Secara lokasinya yang ga jauh dari Bandara maka dipilih menjadi lokasi terakhir sebelum gue kembali ke Jakarta (sedih deh). Kata Fier, belum ke Jayapura kalau belum ke Danau Sentani. Dan spotΒ terbaik untuk menikmati Danau Sentani (selain dilihat dari pesawat saat mau landing atau take off) adalah dari Mac Arthur Museum.

Sebenarnya ada satu kejadian enggak enak saat menuju Sentani. Mood yang tadinya udah bahagia karena melihat matahari terbit dan ke Jayapura landmark jadi down seketika. Ditambah lagi harus sedikit mengeluarkan emosi di depan Fier dan kak Sarah (yang notabene baru kenal) itu enggak enak sama sekali. Biasa, masalah kerjaan dan ada miskom. Sampai sekarang kalau keinget itu aku jadi ga enak sendiri lho, Fier. But anyway, Danau Sentani ternyata punya daya magisnya untuk menghapus segala emosi itu.

IMG_2816
I can stay in here forever!!

Selain mengucap rasa syukur dan pujian kepada Allah SWT. Rasanya ada satu kekuatan tak terlihat yang menghapus emosi di hati. Sama kak Sarah diajakin juga teriak-teriak untuk meluapkan emosi sebenarnya hehe. Mac Arthur Museum sebenarnya museum di atas bukit di wilayah Kodam dan posisinya tepat banget untuk melihat Danau Sentani dari atas dan kejauhan.

IMG_2826
Bandara Sentani dari kejauhan

Sepanjang perjalanan banyak cerita sama Fier dan kak Sarah. This is my first time pergi ke kota lain dan nekad menghubungi orang lokal (dan mau aja diajak jalan-jalan). Ternyata Fierman juga mikir hal yang sama kalau cewek satu ini nekad (dan desperate) banget sampai email dia tentang Jayapura. Mungkin memang gue yang polos, tapi gue percaya dengan feeling gue kalau mereka adalah orang baik. Dan Fierman pun tersenyum, “good people always meet good people”.

Sebagai seorang traveler (bisa dibaca cerita jalan-jalan dia di blog-nya), dia juga banyak bertemu orang baik yang menolong dan membantu dia di setiap perjalanan. Cara lain untuk membalas kebaikan orang itu adalah dengan melakukan hal yang sama kepada orang lain. Untuk kali ini gue bersyukur sama rasa nekad dan penasaran gue sehingga bisa mempertemukan dengan Firman dan kak Sarah. Enggak ada yang kebetulan memang, dan Tuhan punya rencana yang menyenangkan sehingga bisa mempertemukan kami bertiga sehingga bisa berkenalan dan berkawan.

Mungkin kalau enggak pergi dengan Fier dan kak Sarah, kesan yang tersimpan mengenai kota Jayapura ini tidak akan sama. Secara resmi sebagian perasaan gue tertinggal di kota kecil di Timur itu. I would like to go back someday dan eksplor pantai-pantai yang bagusnya kebangetan itu! Ya lagi-lagi post-nya Fier bikin sirik sih hahaha.

Thanks a lot Firman dan kak Sarah! Kita jalan-jalan lagi nanti ya πŸ˜€

IMG_2832
see you when I see you, kak Sarah dan Fier!
Advertisements

7 thoughts on “The One and The Lovely City

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s