(Good) Changes

Seminggu lalu gue dan temen-temen gue terkena virus #throwbackpicture. Awalnya cuman satu orang yang nge post foto jaman kuliah dulu di Path, tapi akhirnya kita semua nge post foto dari berbagai masa. Ah, nostalgia dan jadi rindu sama mi familia politic guys. Secara dulu kita cuman ber 40 kurang dan agak banci foto. Salah satu fase terbaik dalam hidup gue adalah bisa mengenal mereka semua. Kalau kata Anais Nin, “Each friend represents a world in us, a world not born until they arrive, and it is only by this meeting that a new world is born“. My precious little world, of course. Udah hampir 2 tahun lulus kuliah dan masing-masing dari kita agak susah move on dari kenyataan. Apalagi enggak kayak dulu gampang banget mau kumpul atau nginep bareng-bareng. Ditambah lagi beberapa dari kita udah ada yang nikah dan punya anak. Ah well, growing apart is hard, yes. (termasuk tim susah move on :p).

Speaking about ngebandingin ‘Tami’ waktu kuliah dan ‘Tami’ yang sekarang, banyak banget perubahan yang udah gue alamin. Dulu gue agak (agak? Haha) tomboy dan cuek. 80% orang di sekeliling gue laki-laki dan mau enggak mau gue kebentuk jadi sedikit maskulin. Bagi gue terlihat ‘lemah’ dan ‘manja’ itu memalukan. Bahkan gue dipanggil ‘Abang’ sama beberapa temen cowok gue.
Sementara itu gue yang sekarang selain lebih rapi dan enggak secuek dulu, setidaknya gue lebih banyak senyum dan bisa lebih ramah kepada orang lain. Walaupun aida dan mbak qq masih suka ngingetin supaya jangan terlalu galak. Sisi maskulin dan tomboy gue masih ada, cuman gue udah bisa ‘manja’ sama orang lain dan enggak gengsi minta tolong lagi.

Yang paling keliatan sebenernya perubahan fisik. Yang paling seru adalah karena ngeliatnya bareng sama temen-temen kantor (yang belom pernah liat wujud gue selama kuliah) jadi ekspresi mereka priceless banget. Hahaha. What a day.
Dulu gue sebenarnya pemalu dan enggak pede. Kayaknya ngerasa ga pantes jadi perempuan. Makanya terbiasa nyaman dengan kaos, jeans dan converse (tapi emang nyaman, sih, gimana dong). Ditambah temen kebanyakan sama cowok yang enggak terlalu peduli soal penampilan. Tapi akhirnya si upik abu ini pun berubah sedikit demi sedikit karena kerja dan belajar pakai rok lagi. Ditambah punya senior di kantor yang hobi ke salon dan belanja. Mbak QQ yang udah kayak kakak sendiri itu yang secara enggak langsung ngajarin gue untuk comfort in my own skin.

Mungkin dulu gue ngerasa ga pantes jadi perempuan karena gue punya definisi yang berbeda soal menjadi perempuan. Walaupun banyak orang bilang penampilan fisik itu enggak penting, ya bullshit lah ya yang bilang gitu. Tapi appearance itu yang akan ngebentuk first impression. Dan image itu tergantung diri kita sendiri mau dibangun seperti apa. Kerja dua tahun di bidang ini bikin gue belajar banyak bahwa penting untuk bisa menempatkan diri dan membentuk posisi diri. Dan kedewasaan orang itu akan diuji ketika lagi capek, kesel, tapi harus tetep senyum dan tetap harus profesional.

So, I am glad I finally reach this point. 🙂

Advertisements

3 thoughts on “(Good) Changes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s