Keep Running

Mungkin salah satu olahraga (selain berenang dan futsal) yang lekat dengan kehidupan gue adalah lari. Dari SD hingga SMA sekolah di tempat yang agak military freak membuat gue akrab dengan kegiatan berlari yang identik dengan penempaan disiplin diri. Setiap Jumat pagi, kami, para siswa, berbondong-bondong lari di sekitar Rawamangun. Tentu aja yang siswa senior punya privilege untuk malas-malasan. Atau macam teman-teman gue kala itu, nyuruh supirnya jemput di suatu tempat dan di drop sebelum pintu gerbang. Gue sendiri pada dasarnya agak suka kompetisi jadi tentu aja gengsi ikutan naik mobil begitu. Kala itu runner-buddy gue adalah si Gilang. Jangan bandingin dengan Gilang yang sekarang dan berubah jadi pizza-buddy (or anything that we can eat-buddy).

Waktu kuliah di 2-3 tahun pertama fokus di futsal dan tenis meja. Baru beberapa bulan sebelum berangkat ke NTT aja jadi niat lari setiap Jumat sore di kampus sama beberapa kawan. Dan hingga saat ini kampus saya merupakan running track favorit karena melewati hutan dan masih asri dibandingkan jalan raya.

Bagaimana dengan sekarang? Well, setahun lalu sempet sih keranjingan lari tapi di gym doang. Ternyata indoor runner dan outdoor runner itu beda banget. Kerasanya waktu sok-sok ikut Halo Fit Run 5k. Biasanya lari sambil nonton How I Met Your Mother (treadmill sambil nonton) terus tiba-tiba di jalan raya bersama ribuan orang lainnya. Biasanya ngatur pace di mesin, pada saat itu ngatur sendiri. Abis Halo Fit RUn 5k sempet sih bikin janji harus ikut 10k. Dan janji itu baru akan direalisasikan minggu depan, tanggal 13 Desember 2014! Setahun lebih kemudian 😀

Kenapa bisa begitu?
Ceritanya agak panjang sebenarnya. Singkatnya adalah saking sibuknya jadi ga sempet olahraga. Yah pressure kerjaan 2013 itu kan parah banget sebenernya. Masuk 2014 cuman beberapa bulan di awal aja rajin olahraga karena pindah gym deket kantor. Biasa lah euforia tempat fitness baru. Bisa berenang seminggu 4x, yoga seminggu 2x, squash dan lain-lain. Kemudian karena satu dan lain hal akhirnya males ke gym lagi dengan dalih udah terlalu malem, udah capek, enakan tidur atau pergi sama temen pas weekend, dkk. Plus! Gue jadi banyak makan. Yaudalah ya berat badan pun enggak ke kontrol. Intinya gue menjadi enggak bertanggung jawab terhadap diri gue sendiri deh.

Hingga akhirnya gue mulai mencoba lari lagi sekitar bulan Oktober 2014. Selama hidup 24 tahun di komplek perumahan yang sama, baru kali itu gue mencoba lari di lapangan bola di depan rumah. Dan ternyata gue melihat hal-hal yang enggak pernah gue perhatikan sebelumnya. Matahari terbit yang berwarna oranye, angin yang berhembus pelan bersama kawanan burung yang bernyanyi, tanah yang sedikit retak menampilkan sarang ular (gue yakin), kucing yang selalu berada di tempat yang sama, seorang kakek yang senam pagi, sekelompok ibu-ibu yang olahraga pagi sembari mengobrol, seorang bapak yang ditemani istrinya untuk latian jalan pasca sakit stroke dan banyak hal baru lainnya. Gue sadar gue jarang berinteraksi dengan warga di kompleks ini karena kehidupan gue banyak dihabiskan di luar rumah. Tapi dengan waktu kurang dari satu jam, setiap pagi, kami berinteraksi dengan cara masing-masing. Minimal senyum atau lambaian tangan. Sekarang gue dikenal sebagai cucu Bu Soegriwo yang suka olahraga.

I never thought that outdoor running gave a lot of experience.

Dan bahkan saking adiktifnya, di sela-sela waktu kadang gue merindukan pagi untuk cepat datang karena tak sabar ingin berlari di lapangan bola. Ga jauh sih, ya minimal 2k aja. Mungkin ini salah satu perubahan yang gue syukuri tahun ini. Selain itu gue juga mulai mengatur pola makan lagi. Sarapan putih telur rebus dan pisang, makan siang nasi merah dan lauk sayur, makan malam kiwi. Enggak lupa rajin minum air putih dan minum teh ijo 2 – 3 x sehari. Udah mulai pisah kongsi sama junkfood, indomie dan cokelat. Cuman kalau weekend ya boleh lah cheating sedikit. 😀

Ikut #BAJAKJKT sebenarnya agak nekad karena gue tahu pace gue masih jelek dan gue belum pernah lari lebih jauh dibanding 5k. Tapi namanya juga gue, nekad dan suka challenging. Tapi gue percaya dengan proses. Mungkin sekarang gue lelet kayak siput. But as long as I keep running and not giving up, I will reach into finish line. Dan gue setuju sama kata-kata Haruki Murakami kalau: “People sometimes sneer at those who run every day, claiming they’ll go to any length to live longer. But don’t think that’s the reason most people run. Most runners run not because they want to live longer, but because they want to live life to the fullest. If you’re going to while away the years, it’s far better to live them with clear goals and fully alive then in a fog, and I believe running helps you to do that. Exerting yourself to the fullest within your individual limits: that’s the essence of running, and a metaphor for life — and for me, for writing as whole. I believe many runners would agree” 

Masih inget post gue tentang Freedom? Mungkin lari salah satu jawaban dimana gue bisa bebas dan lepas dari banyak hal yang gue pikirkan saat ini.

Dan tentu aja semua ini enggak bakal kejadian kalau gue enggak kenal sama Husen. Si gila lari satu itu yang berhasil mengingatkan gue betapa menyenangkannya olahraga lari dan berhasil mendorong gue keluar dari zona pemalas. Yes, you did it, cen. And I’m glad to have you in my life 🙂 Semoga ke depannya kamu ga harus nunggu aku di finish line tapi minimal bisa ke finish line bareng-bareng lah haha (entah kapan itu hiks).

Ps: And thanks to you yang berhasil “maksa” aku buat nyelesain tulisan ini, tebakan kamu ga salah.. ini lanjutan si John Legend kok. Hehe 😀

Advertisements

5 thoughts on “Keep Running

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s