Double G

Di antara beberapa pertemanan yang saya miliki dengan individu yang berbeda. Ada dua laki-laki yang bisa saya hitung sebagai sahabat karib. Dan keduanya memiliki huruf pertama yang sama dalam namanya, yaitu G. Lucunya adalah keduanya tidak saling mengenal dengan baik padahal kami kuliah di tempat yang sama. Ah, well.

G yang pertama merupakan sahabat saya semenjak kelas 3 SMP. Saya masih ingat waktu dia masih gendut, tinggi besar, berwajah bulat dan beralis mata tebal. Mukanya mirip dengan guru privat saya waktu itu (which I never mention to him karena guru privat saya perempuan). Ketika SMA, dia mengalami penurunan berat badan yang drastis sehingga menjadi tinggi atletis. Sementara saya masih saja si pendek yang bulat. Kalau jalan dengan dia memakai wedges atau high heels 12 cm pun masih kalah tinggi *yaiyalah*

Dengan G yang pertama saya hapal mati kisah cinta yang dia alami. Dicemburui oleh mantan-mantan pacarnya juga hal yang sering terjadi. Apa pula yang dicemburui dari gadis tambun seperti saya kala itu? Haha. Kisah cinta tragis yang dia alami adalah dengan seorang perempuan yang pernah satu SMA dengan kami juga (iya, kami masuk sekolah yang sama dari SMP –  SMA hingga kuliah). Hingga di tahun ini pun perempuan tersebut masih menghantui pikiran dia. Entah apa yang dia lihat dari perempuan itu. Padahal banyak perempuan yang lebih baik dari dia. Semoga dia bertahan lama dengan pacarnya yang sekarang dan tidak khilaf melakukan kebodohan lagi.

G pun hapal mati dengan kisah cinta yang saya lalui. Ibarat nomor panggilan darurat, G orang pertama yang saya hubungi ketika ada masalah.  Mulai dari punya pacar yang beda agama sampai sempat ‘dekat’ dengan somebody’s boyfriend, haha *anak nakal*. Well, actually, we share every single detail to each other. Bukan kisah cinta aja sih, tapi mulai dari masalah karier, keluarga, keuangan dan masa depan. Mereka bilang kalau pertemanan yang sudah melewati masa 8 tahun bisa dibilang sebagai teman untuk seumur hidup. Mungkin G salah satu dari sekian banyak orang yang akan menjadi teman untuk seumur hidup.

**

Sementara itu, saya mengenal G yang kedua semenjak tahun pertama kuliah karena selama setahun menjadi teman satu kelas. Karena berbeda jurusan, tahun berikutnya kami jarang bertemu kecuali bertukar sapa di jalan atau kantin. Hingga ada satu program di kampus kami yang mengirim beberapa mahasiswanya untuk melakukan pengabdian (well known as Kuliah Kerja Nyata) ke daerah-daerah terpencil di Indonesia yang diikuti oleh kami berdua. Setelah serangkaian tes yang harus di jalani, dalam beberapa kesempatan pun kami sering mengobrol. Mulai dari pelatihan di Surabaya hingga kami sama-sama harus menaiki KRI dari Kupang dan kemudian berpisah menuju titik masing-masing.

Pada suatu malam saya dan dia bersama beberapa kawan duduk di dek kapal sambil menonton hamparan bintang di langit malam yang kelam. Menyadari KRI ini hanya satu titik kecil di lautan luas berselimut bintang, malam itu kami berbicara banyak hal. Mulai dari alasan mengapa memulai perjalanan dan misi yang kami emban. Dia yang bertekad untuk melupakan patah hati-nya dan saya yang bertekad dengan misi saya untuk mencari makna hidup. Yang saya ingat besok saya harus turun duluan di Maumere untuk melanjutkan perjalan selama 5 jam ke titik penempatan saya. Ada rasa sedih karena harus berpisah mengingat titik penempatan dia yang di peta saja tidak nampak. Tidak akan bertukar kabar selama satu bulan. HIngga pagi-nya entah kenapa tangis saya pecah ketika dipeluk dia. Berpisah dengan teman seperjuangan itu berat rasanya. Kami pun berjanji untuk berjumpa dengan lebih sehat, lebih ceria dan ratusan cerita yang akan dibagi nanti. Pada saat saya turun kapal dan kapal melaju pergi, saya masih bisa melihat sosok dia di dek kapal menatap lurus ke pelabuhan tempat saya berada. Kami sempat berbicara di telepon untuk beberapa saat sebelum akhirnya mulai kehilangan sinyal.

Hingga satu bulan kemudian, kami bertemu kembali di KRI tersebut. Ketika kulit sama-sama sudah saling menggelap. Kami sudah lebih ceria karena beban tugas sudah selesai. Dengan ratusan cerita mengharukan dari titik penempatan. Dan berkumpul lagi di dek kapal ketika malam menjelang, memandang ribuan bintang di atas kepala dengan puluhan bintang berbalapan. Thats why our “friendship” is literally means friend-ship = teman kapal.

Perjalanan tersebut bukan hanya membuat saya menemukan diri saya tapi juga menemukan satu sahabat terbaik. Saya ingat di suatu masa patah hati dari mantan pacar saya, dia menemani saya untuk sekedar mengobrol. Padahal saat itu juga dia harus bertemu pacarnya. Haha. Saya juga ingat menemani dia bergalau-galau ria ketika jatuh hati dengan seorang perempuan yang jadi pacarnya saat ini. Sampai saat ini pun dia masih menjadi teman yang bisa diandalkan. Semoga Tuhan kasih kesempatan saya untuk tetap menjalin persahabatan ‘unik’ ini dengan G kedua.

Baik G pertama dan kedua bagi saya adalah dua dari sekian yang teristimewa. Sayang mereka tidak saling kenal dengan baik haha.

Advertisements

One thought on “Double G

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s