Me Time

Sesuatu yang pasti itu tidak ada, kecuali perubahan itu sendiri. Mungkin sebagian besar manusia takut akan perubahan karena sudah terjebak oleh rasa nyaman. Padahal, perubahan itu adalah sesuatu yang lumrah dan justru akan membawa kita ke suatu masa yang lebih baik (atau fase nyaman baru). Terjebak oleh rasa nyaman merupakan fase racun, karena sebenarnya kita tahu hal tersebut berdampak buruk tapi kita dibutakan oleh ketidaktahuan. Thanks God, gue bisa melewati hal tersebut. 

Awalnya, putus dengan dia itu merupakan satu hal yang paling menakutkan. Pertanyaan-pertanyaan menjebak macam ‘whats next?’ ‘what will happen later?’ ‘dengan siapa gue akan membagi hidup gue lagi?’ dan so on adalah pertanyaan klise yang bikin gue ga berani untuk meninggalkan dia. Selain gue emang sayang banget sama bocahnya, gue juga punya tingkat kenekatan yang tinggi untuk memperjuangkan hubungan ini. But things dont go as we plan then we break up. 

Dua minggu pertama adalah fase yang paling paling palinggggg enggak ngenakin. Selain perasaan yang campur aduk (ya, putusnya gak baik-baik soalnya… tapi putus emang ada yang baik-baik ya?) juga ada banyak hal yang hilang dalam hidup gue. Gue terbiasa untuk membagi banyak hal dengan dia, mulai dari hal yang penting sampai gak penting. Enggak ada pendamping wisuda sebenernya bukan masalah besar, cuman sahabat gue yang gue jadiin cadangan pw pun harus di camp militer. Belum lagi pertanyaan orang-orang. Cranky banget deh dua minggu itu. Untungnya ada dua temen gue yang selama 24 jam (well, you know who you are) siap sedia nemenin via online atau offline (ketemu langsung). 

Perubahan paling kerasa adalah: I have to deal with my loneliness. Dulu, gue orang yang terbiasa sendiri di dalam dunianya. Namun, kehadiran satu orang yang konstan selama hampir dua tahun ternyata mampu merubah sistem hidup gue. Dulu, handphone itu selalu out of reach, tapi sekarang udah jadi barang wajib untuk ngecek atau di cek kondisinya. Emang bener sih, fase-fase kayak gitu harus dilewatin dulu sambil garuk-garuk tanah. Alhamdulilahnya, sekarang udah terbiasa kembali. Well, I dont feel lonely anymore eventhough I’m alone. Seperti sekarang gue lagi di salah satu kedai kopi di salah satu gedung di Sudirman, waiting for something, alone. Kemarin malam juga di salah satu kedai kopi di mall di Jakarta Selatan, writing while waiting for someone, alone. Rasa sendiri pun akhirnya kembali bersahabat. Its called me time 🙂 

You know, after being with someone for a long time, you’d lost your me time and finally i get it back again. Mungkin hal tersebut yang perlu disyukuri saat ini. 

Setelah dua minggu dan mendapatkan banyak kabar baik, i’m finally in ‘I’m good without you”s condition. Yippie! Thats the best feeling ever. Toh, emang gak ada untungnya mikirin yang udah lewat. 🙂 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s