Between Job and Career

Di suatu tes seleksi suatu perusahaan, salah seorang direktur perusahaan tersebut dalam speech-nya menyebutkan, “Kalau kalian mencari pekerjaan, maaf, tapi kami tidak bisa menerima kalian. Karena kami mencari orang yang menginginkan karier dalam hidupnya”.

Pernyataan si direktur itu menyadarkan gue atas suatu pertanyaan paling dasar dalam hidup manusia: apa yang paling gue inginkan dalam hidup. 

Fase sekolah sudah selesai. Dua tahun TK, enam tahun SD, tiga tahun SMP, tiga tahun SMA dan empat setengah tahun kuliah. Whats next? Hidup yang selama ini teratur (atau diatur) akhirnya berada dalam genggaman tangan gue. Ibarat kapal, kemudinya saat ini gue yang pegang kendali. I know I was totally late to realize this. But, maybe it sounds lame, I was grow in family culture who are very spoiled to their children. Hingga akhirnya tiba saatnya, saya harus memutuskan mau kemana kaki ini melangkah untuk hari esok, lusa, bulan depan, setahun, lima tahun, hingga tahun-tahun berikutnya. Pikiran standar manusia, setelah lulus kuliah, cari kerja, menikah, punya keluarga bahagia. Tapi, masa cuman itu? 

Sungguh ini mengusik saya. 

Saya sudah punya rencana, namun selama ini hanya sebatas angan-angan. Mungkin ini yang namanya menjadi dewasa dan mandiri. Tahu apa yang dimaui, mengejar mimpi, berjuang dan bergumul sebelum akhirnya menuju titik akhir kehidupan. 

Kembali lagi kepada perkataan si direktur tersebut. Hal tersebut menyadarkan saya akan satu hal. Hidup bukan hanya sekedar bekerja. Karier seperti apa yang ingin saya capai. Dari dulu saya selalu ingin menjadi penulis. Lebih tepatnya penulis gaya hidup, fiksi ataupun hal-hal yang dekat dengan keseharian. Hal ini berawal dari kesukaan saya membaca buku semenjak saya bisa membaca. Dari tulisan, saya mengenal dunia, karakter manusia, peristiwa bahkan menggerakan hati dan turut hanyut dalam kisah di dalamnya. Tetapi mencoba benar-benar menulis saja tidak pernah konsisten. Mungkin menulis akan selamanya menjadi hobi. 

Sepanjang kuliah saya banyak belajar mengenal diri saya sendiri. Ikut berbagai kegiatan, bertemu banyak orang, keluar dari zona nyaman hingga menjadi zona nyaman baru hingga menemukan minat-minat lain. Karier tidak bisa dimulai dengan mengerjakan sesuatu yang bukan kita sukai. Karena hingga satu titik, rasanya seperti tersesat dan kehilangan alasan untuk mengerjakannya untuk target tertentu. Sangat rasional di usia saat ini mencari pekerjaan untuk melanjutkan hidup. Namun alangkah bahagianya apabila pekerjaan tersebut sesuai dengan apa yang kita cintai. Sehingga, hidup bukanlah hanya sekedar bekerja. Maybe, I’ll be very very very picky to my next stage of my life after graduate

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s