Ujian Pertemanan

I can’t help myself to not be ‘baper’ in the time like this. After pak Ahok got sentenced, the world seems darker than before. For some people, it’s like the dead of hope. For other people, they’re cheering because what they want is finally back to their hand. That’s how bad and ugly politic is.

But what made me more sad is in the situation like this, I have to agree that the strategy of ‘Divide et impera’ of the Dutch is really working. Even after 70s years Indonesian got independence.

Melihat orang terpecah antara kubu A, B, C, D etc dan saling memperebutkan ‘kebenaran’ membuat gue muak. Until, myself cross path with him. A very dear friend of mine who I just realised we stand on different groups. Berbeda pendapat adalah hal yang lumrah. Namun yang menyebalkan adalah ketika saling mempertentangkan kebenaran itu dan memaksakan kebenaran yang ia percaya. In the end, what hurts me most is… after he said to me to understand the both sides, then he just said “I don’t care with your opinion and political’s view”.

Salah seorang sahabat berkata, situasi ini adalah ujian pertemanan. Sampai di titik mana kamu menghargai level pertemanan kamu dengan mereka yang berbeda pendapat? Konyol kalau gara-gara ini pertemanan harus runyam. Konyol karena menurut saya ada hal yang jauh lebih penting untuk dijaga dibanding mendebatkan siapa yang benar atau salah. Misal: kestabilan politik Indonesia? pembangunan Indonesia yang sudah mencapai progres sejauh ini?
Honestly, situasi yang memanas belakangan ini baru seujung kuku. Semua ini hanya lah pemanasan sebelum pertarungan politik yang sesungguhnya di 2019.

When I said to you to spread the love because it hurts me to see that you spread the hate. But you argue to me it’s for “spread the truth”. What is the truth anyway? The truth that you believe is different from mine 😦
And the truth is I was not brave enough to said to you. But because I care to you and our ‘friendship’, I gave my argument to your opinion. It’s not about who’s right or wrong. It’s not about winning or losing in this debate. It’s about how I value our friendship, so I have to tell you in which group I’m in. And to be honest, I was curious with you reaction. I was wondering, how you will value our friendship? But perhaps, I just hope too much on you. You, who always said that you care to me. But, I think ‘care’ is not enough. And how the differences between us just made us separate more than before.

But, A, do you recognise that the world is getting darker right now? In this situation, what we have to do is winning our friendship instead of argue our differences. Just like what Dumbledore said:

“in the light of Lord Voldemort’s return, we are only as strong as we are united, as weak as we are divided. Lord Voldemort’s gift for spreading discord and enmity is very great. We can fight it only by showing an equally strong bond of friendship and trust. Differences of habit and language are nothing at all if our aims are identical and our hearts are open.

I hope you do understand.

With love,

T

Receh Story

Bosen ah cerita yang serius-serius.

Bisa dibilang beberapa hari kemarin mentally exhausted. Why? Selain karena deadline tugas dan tidur tiap hari jam 3 pagi. Hati sedih dan miris melihat berita di Jakarta. Mulai dari putusan hakim mengenai Ahok, berita-berita pasca pilkada yang somehow stupid and ridiculous, belum lagi ‘ngeri’-nya tulisan yang ditulis Allan Nairn. Mungkin ini efek tidak tinggal di Indonesia, semua berita terdengar ‘menakutkan’. Ah well.

Bagaimana kabar semester satu kuliah? Sekarang memasuki minggu ke-10 dan tidak terasa tersisa 2 minggu lagi sebelum semester pertama selesai. Di saat teaching break kemarin sempat merasa homesick. Bener kata Barbara, cross-cultural teacher pdt kemarin, homesick cepat atau lambat akan menghampiri. The most important thing is how to cope with that feeling. But I believe, sooner or later, after you hit your lowest point the only option is bangkit dan semangat lagi. Cara paling mudah mengatasi homesick adalah masak makanan indonesia. Se-simple tumis teri pete, oseng tempe, balado daging. I have to proud for myself because finally I cook Indonesian food.

How about cultural shock? Karena tinggal di kota sepi, jujur awal-awal kaget dan tidak terbiasa dengan sepi-nya Canberra. Sebagai anak Jakarta yang biasanya sampe rumah jam 11 malem, lumayan shock mendapati fakta jam 7 malem aja Canberra udah sepi banget. Belum lagi homeless people disini yang lumayan agresif (tips: pura-pura gak denger dan jalan buru-buru). Bahkan sempet merasa gak aman jalan sendirian di Canberra.

Hingga suatu hari yang random enggak sengaja ngobrol sama bapak-bapak di halte bus. Suddenly, he asked me:

“Excuse me, are you a moslem?”

“Yes”

“I just want to say, I respect with you and your moslem community. Having a faith to God is a good thing. I’m so sorry for many terrible things happened to you and your community” 

Setelah terdiam beberapa detik, akhirnya mengucapkan terimakasih penuh haru. So this is how it feels to be a minority. Seketika merasa sedih dan miris melihat banyak-nya diskriminasi yang dihadapi teman-teman non-muslim di Indonesia. Dan kejadian ini pun berulang di lokasi yang berbeda dengan orang yang berbeda. Saat naik bus menuju kampus, seorang ibu-ibu yang duduk persis di belakang gue dan Icha tiba-tiba nyapa:

“Excuse me, are you a moslem?”

“Yes”

“I am a Christian. I just wanna say I am really sorry for what happened because of Trump. You are very welcome here. You are very beautiful. And I’ve never felt this ashamed before.”

 

Moral of the story is important to remind myself how it feels to be minority and get respect from other. Seketika Canberra jadi terasa lebih menyenangkan daripada sebelumnya 🙂

The real receh story that I want to share in here is the sad feeling I had few days ago. Sad because my ex is finally have a new girlfriend, while me sedang stress sama tugas dan essay. I know, its shallow rite? But then, after I walked back home from the library and enjoy Canberra usual scenery (clear blue sky, sunset, trees everywhere and watched group of cockatoos flying above me), I just realise how beautiful this city. And I’m the one who chose to continue study instead of continue my relationship with him (yep, I’m the one who asked to break up). Why would I feel sad over something that already broken and not happy because of the choice I made? And suddenly I feel happy again. I know it’s shallow and lame, but this is one of the effect because of messy-mix-issue-in-my-mind-between-social-policy-and-development-theory. Anyhow, I have to write this cheesy things to remind myself of how good is my choice. It’s totally a trade offs hahaha. Goals over boys, girls huahahaha.

Okay, enough blabbering, and I need to finish those essays soon as possible 🙂

Wish you have a good life 😀

Setelah Gagal LPDP

IMG_1784

Sudah setahun semenjak saya mendapatkan email ini. Saya masih ingat betapa patah hati-nya saya saat mendapatkan email ini. Saat itu adalah momen dimana saya benar-benar menyadari betapa kuatnya keinginan saya untuk melanjutkan sekolah kembali. Momen dimana saya menantang diri saya sendiri untuk benar-benar mendapatkan apa yang saya ingin wujudkan.

Setahun kemarin banyak pembelajaran yang saya dapatkan. Bertemu orang-orang yang bisa mendorong saya melebihi batas kemampuan saya sendiri. Mendapatkan bantuan atau turut serta membantu orang yang berada di jalur perjuangan yang sama. Tulisan saya di blog ini entah sudah menyebar kemana saja, dan bukan menjadi hal yang mengherankan ketika traffic blog menjadi ramai. Terimakasih yang sudah mampir dan turut membaca postingan closure saya mengenai kegagalan di lpdp.

Tahun lalu saya menanamkan pikiran di benak saya kalau tahun depan saya harus sudah melanjutkan sekolah ke sekolah idaman saya. Dan tepat kemarin tanggal 10 Maret 2017, saya baru saja menyelesaikan ujian di kelas (semacam quiz) untuk mata kuliah Social Policy sebelum berangkat ke Sydney untuk menonton Adele tanggal 11 Maret. You know, life will bring you exactly to what you want. Masih ingat novel 5 cm? Tanamkan pikiran dan pusatkan segala perhatian untuk mewujudkan mimpi-mu. Now I sound like motivator ala-ala hahahaha. But, hey, it works for me.

Selama setahun kemarin pun saya mendapatkan banyak email dari random and stranger mengenai lpdp dan beasiswa pada umumnya. Mulai dari bagaimana mengatasi kegagalan, bagaimana mendapatkan beasiswa yang kita mau, dan pertanyaan basic macam “berapa minimal ielts”, “apakah jurusan x menjadi prioritas?”. Mulai dari excited menjawab semua email, hingga bosan dan mengernyitkan dahi mendapatkan berbagai pertanyaan itu hehe. Honestly, I’d love to help others. Tapi bener banget sih, kalau pertanyaannya basic yang bisa dicari tau sendiri kadang agak bingung juga kenapa masih ditanyain lagi. Pantesan aja, banyak kawan yang suka ngasih ‘warning’ ke orang-orang jika ingin bertanya harus mencari tahu sendiri jawabannya. Google is really helpful. You basically could search anything from it. Cuman ya kadang mungkin sulit menemukan keyword yang tepat atau males baca aja sih hehe.

Saat ini setelah menjadi awardee Australia Awards, bukan berarti perjuangan berhenti. Justru perjuangan yang lebih berat menanti selama dua tahun ke depan. I chose a school that very competitive and have a high standard to achieve, semoga dikuatkan selama dua tahun ke depan. Tapi sekolah bukan cuman sekedar belajar, cuman berinteraksi, bertemu orang baru (dari berbagai macam negara dan latar belakang), tinggal di lingkungan baru, beradaptasi dan pengalaman lainnya. Well, I promise to write more about my life in here 🙂

IMG_0093
with Australia Awards Recipient in Crawford